
METRO - Membangun kampus yang inklusif tidak cukup hanya dengan menyediakan akses fisik. Cara berkomunikasi, memberikan pelayanan, hingga memahami kebutuhan penyandang disabilitas menjadi bagian penting dari wajah perguruan tinggi yang benar-benar setara.
Kesadaran tersebut menjadi salah satu fokus keikutsertaan tenaga kependidikan Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro) dalam Pelatihan Disability Awareness yang berlangsung pada 8–9 September 2026 di Auditorium Gedung dr. Soelomo, Kampus 3 UM Metro.
Pelatihan ini menjadi ruang penguatan kapasitas tenaga kependidikan dalam memahami isu disabilitas sekaligus membangun perspektif pelayanan yang lebih inklusif. Bagi lingkungan perguruan tinggi, pemahaman terhadap disabilitas bukan sekadar pengetahuan tambahan, melainkan bagian dari tanggung jawab dalam memastikan setiap warga kampus memperoleh kesempatan dan pelayanan secara adil.
Keikutsertaan tenaga kependidikan FT UM Metro juga menjadi langkah konkret untuk mendorong perubahan budaya pelayanan. Kampus yang ramah disabilitas tidak lahir hanya dari kebijakan, tetapi dari kesadaran setiap individu yang berinteraksi langsung dengan mahasiswa dan masyarakat.
Momentum ini sekaligus menegaskan bahwa inklusi harus hadir dalam praktik, bukan berhenti sebagai slogan. Tenaga kependidikan memiliki posisi strategis sebagai garda depan pelayanan administrasi dan akademik, sehingga peningkatan pemahaman mengenai disabilitas diharapkan dapat diterjemahkan dalam pelayanan yang lebih humanis, responsif, dan menghargai keberagaman.
Langkah tersebut sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDGs 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan.
Melalui penguatan disability awareness, FT UM Metro terus mendorong terciptanya ekosistem pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga setara, inklusif, dan mampu memberikan ruang bagi setiap individu untuk berkembang tanpa diskriminasi.